Infotoday.id, Batam – Suasana studio RRI Batam mendadak berubah haru dalam program Dialog Batam Menyapa: Kisah Inspiratif, ketika sosok anggota Polda Kepri, Bripka Zulhamsyah Putra, menceritakan perjalanan panjang aksi sosialnya yang dikenal dengan nama “Razia Perut Lapar”.
Kisah itu bukan hanya menggugah, namun juga membuat sejumlah pendengar meneteskan air mata karena ketulusan yang terpancar dari setiap tutur katanya.
Dengan suara tenang namun sarat emosi, Bripka Zulhamsyah mengungkapkan bahwa Razia Perut Lapar lahir pada tahun 2021, tepat di masa kelam pandemi Covid-19.
Saat itu, ia menyaksikan langsung bagaimana banyak warga kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, bahkan ada yang tidak mampu membeli makanan sehari-hari.
“Waktu itu saya melihat sendiri ada masyarakat yang benar-benar bertahan hidup dengan apa adanya. Ada yang seharian belum makan. Dari situlah hati saya tergerak. Saya berpikir, sebagai manusia dan sebagai polisi, saya tidak boleh tinggal diam,” tutur Bripka Zulhamsyah dalam dialog tersebut, Rabu (10/12) pagi.
Berbekal niat tulus, dana pribadi, dan bantuan beberapa relawan, ia mulai menyusuri sudut-sudut kota untuk membagikan nasi bungkus secara diam-diam, menyasar tukang ojek, pemulung, buruh harian, hingga warga yang hidup di kawasan kumuh. Tidak ada kamera, tidak ada publikasi, hanya ada kepedulian.
Seiring waktu, gerakan kecil itu berkembang menjadi Razia Perut Lapar, sebuah aksi sosial yang kini dikenal luas masyarakat. Hingga saat ini, kegiatan tersebut masih terus berjalan, menyentuh ribuan warga yang membutuhkan uluran tangan.
Momen paling menggetarkan dalam dialog tersebut terjadi ketika Bripka Zulhamsyah menyampaikan pesan dari sang ibu. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan bahwa ibunya selalu menjadi sumber kekuatan dalam setiap langkah pengabdian.
“Ibu saya selalu berpesan, teruskan kegiatan baik ini, karena tujuan kamu memang untuk menolong orang lain. Jangan pernah lelah untuk berbuat baik,” ucapnya lirih.
Ia juga menceritakan bahwa bagi sang ibu, tugasnya sebagai polisi bukan hanya menjalankan kewajiban negara, tetapi juga menjadi teladan dalam kebaikan bagi masyarakat.
“Ibu bilang, bukan hanya soal mendoakan kesembuhan beliau, tapi saya harus meniatkan diri sebagai polisi yang bisa memberi contoh, agar orang-orang juga mau saling tolong-menolong,” tambahnya.
Pesan sederhana itu menjadi bahan bakar semangat Bripka Zulhamsyah untuk tetap konsisten, meski tidak jarang ia harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi demi memastikan tidak ada perut yang kelaparan di sekitarnya.
Kisah tersebut sontak mengundang reaksi emosional dari para pendengar RRI Batam yang mengikuti siaran tersebut secara langsung.
Sejumlah komentar live YouTube yang di siarkankan langsung menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas ketulusan Bripka Zulhamsyah.
Salah seorang pendengar, Siti (45), warga Batam Centre, mengaku menangis saat mendengar kisah perjuangan sang polisi.
“Jujur saya menangis mendengarnya. Di tengah banyaknya berita buruk, masih ada polisi seperti Bripka Zulhamsyah yang benar-benar tulus menolong orang tanpa pamrih. Ini baru sosok polisi yang dirindukan rakyat,” ujarnya dengan suara bergetar.
Pendengar lainnya, Andi, sopir ojek online di Batam, mengatakan bahwa kisah tersebut memberinya semangat baru untuk tetap berbuat baik meski dalam kondisi sulit.
“Saya salut sekali. Beliau tidak hanya bicara, tapi benar-benar turun ke jalan membantu orang lapar. Semoga Allah membalas semua kebaikannya,” katanya.
Bahkan ada pendengar yang menyebut bahwa ketulusan Bripka Zulhamsyah adalah cerminan sejati Bhayangkara yang humanis, pelindung dan pengayom masyarakat dalam arti yang sebenarnya.
Bripka Zulhamsyah sendiri menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat mencari popularitas dari aksi sosial tersebut. Baginya, melihat orang lain bisa makan dengan layak saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar.
“Saya tidak mencari pujian. Saya hanya ingin mereka yang lapar bisa makan hari itu. Kalau masyarakat bahagia, itu sudah cukup bagi saya,” ungkapnya.
Ia juga berharap, apa yang ia lakukan bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut bergerak, sekecil apa pun bentuk bantuannya.
Kisah Bripka Zulhamsyah Putra semakin menguatkan pandangan bahwa polisi bukan hanya penegak hukum, tetapi juga pelayan dan sahabat masyarakat. Di tengah berbagai tantangan dan sorotan terhadap institusi, sosok seperti dirinya hadir membawa harapan dan menghidupkan kembali kepercayaan publik.
Aksi Razia Perut Lapar bukan soal gerakan sosial, melainkan simbol ketulusan, empati, dan keberanian untuk peduli. Dari peristiwa inilah masyarakat kembali diingatkan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, mampu mengubah hidup banyak orang.
Kisah ini pun menjadi bukti bahwa ketulusan tidak pernah sia-sia. Ia akan selalu menemukan jalannya ke hati manusia, seperti yang terjadi di studio RRI Batam hari ini ketika air mata, doa, dan rasa hormat mengalir untuk seorang polisi sederhana dengan hati luar biasa. (Day)












