ADVERTORIALKepriTanjungpinang

Sekolah Lansia Sebagai Model Pemberdayaan Lansia Inovatif Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan Anggaran

×

Sekolah Lansia Sebagai Model Pemberdayaan Lansia Inovatif Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Sebarkan artikel ini
Foto: Peserta Sekolah Lansia Kelurahan Bukit Cermin.

Infotoday.id, Tanjungpinang – Peningkatan kualitas hidup penduduk lanjut usia (lansia) merupakan salah satu fokus utama pembangunan kependudukan dan keluarga di Indonesia. Seiring pertambahan angka harapan hidup, populasi lansia terus meningkat sehingga diperlukan program strategis untuk memastikan kelompok usia lanjut tetap sehat, produktif, dan berdaya. Salah satu program unggulan yang diluncurkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN adalah Program Quick Wins “Lansia Berdaya (SIDAYA)”, sebuah inisiatif yang menempatkan lansia sebagai subjek pembangunan melalui pendidikan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas.

Foto: Lansia Mengikuti Pembelajaran.

Sekolah Lansia adalah salah satu model nyata pemberdayaan lansia yang inovatif dan berkelanjutan di tengah keterbatasan anggaran pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang yang diimplementasikan di Kelurahan Bukit Cermin. Di bawah kepemimpinan Lurah Ima Rosida, S.Pd., M.Si., Kelurahan Bukit Cermin telah menyelenggarakan Sekolah Lansia bekerja sama dengan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB). Program ini berkembang pesat meskipun dilaksanakan tanpa pembiayaan langsung dari pemerintah, berkat antusiasme masyarakat, dukungan kader PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana), serta kontribusi sukarela para narasumber.

Foto: Lansia Sedang Mendengarkan Materi dari Narasumber.

Disadari bahwa perubahan struktur penduduk Indonesia yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok usia lansia (60 tahun ke atas), bila tanpa intervensi yang tepat, dapat menyebabkan beban kesehatan, sosial, dan ekonomi. Maka muncullah Program Quick Wins BKKBN berupa SIDAYA (Lansia Berdaya) sebagai strategi menjaga kualitas hidup lansia secara menyeluruh. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan edukasi dan pendampingan bagi lansia sangat tinggi. Hal ini menjadi dasar kuat bagi Bukit Cermin membuka Sekolah Lansia, sebuah pendidikan nonformal berbasis komunitas. Meskipun tanpa pendanaan dari APBD atau APBN, Sekolah Lansia tetap berjalan optimal berkat semangat gotong royong:
• Konsumsi kegiatan ditanggung swadaya masyarakat.
• Narasumber hadir tanpa honor, didorong oleh keikhlasan untuk berbagi ilmu.
• PLKB aktif melakukan pendampingan dan pengorganisasian kelompok.

Foto: Lansia Melakukan Pemeriksaan Kesehatan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan lansia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi dapat dipicu melalui kerja sama masyarakat dan lembaga lokal sehingga program SIDAYA dapat berjalan meski dengan sumber daya terbatas.

Foto: Lansia Melakukan Kegiatan Keterampilan Membuat Anyaman dari Plastik Bekas.

Salah satu komponen utama dari Program SIDAYA adalah Sekolah Lansia, bentuk pendidikan nonformal yang dirancang sebagai bagian dari long life education. Pendidikan ini dihadirkan untuk memastikan lansia tetap mendapatkan informasi, pelatihan, serta stimulasi yang diperlukan untuk menjaga kualitas hidup. Lansia tidak hanya menghadapi perubahan fisik, tetapi juga tantangan mental, sosial, dan spiritual. Sekolah Lansia hadir menjawab kebutuhan tersebut melalui:
• Edukasi kesehatan fisik dan mental.
• Pembinaan keagamaan.
• Penguatan sosial budaya.
• Peningkatan kemampuan vokasional.
• Pemberdayaan dalam komunitas.

Dengan demikian, Sekolah Lansia bukan sekadar kegiatan kelompok, tetapi merupakan intervensi edukatif yang memperkuat kapasitas lansia untuk tetap mandiri, sehat, produktif, dan tangguh.

Program ini memiliki tujuan yang komprehensif dan terukur, yaitu:

  1. Meningkatkan kualitas Bina Keluarga Lansia (BKL) dalam mewujudkan lansia tangguh.
  2. Meningkatkan pemahaman lansia tentang konsep SMART, yaitu pendekatan kesehatan dan kesejahteraan berbasis 7 dimensi lansia tangguh.
  3. Meningkatkan pengetahuan lansia tentang proses menua, baik dalam kondisi sehat maupun sakit.
  4. Meningkatkan perilaku lansia terkait kesehatan fisik dan mental seperti olahraga teratur, pemeriksaan kesehatan, dan manajemen stres.
  5. Meningkatkan kemampuan sosial-ekonomi lansia, termasuk pemanfaatan potensi diri untuk kegiatan produktif sesuai kemampuan.

Sasaran Sekolah Lansia adalah:
• Individu berusia 60 tahun ke atas, baik yang masih produktif maupun yang telah berhenti dari aktivitas rutin.
• Lansia dengan beragam latar belakang ekonomi, pendidikan, dan kondisi kesehatan.
• Keluarga pendamping lansia agar memahami bagaimana memberikan dukungan yang tepat.

Saat ini, peserta Sekolah Lansia yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Lurah berjumlah 30 orang, terdiri dari 3 laki-laki dan 27 perempuan, dipimpin oleh Ketua Bapak Tularji.

Program ini diharapkan menghasilkan dampak positif:
• Meningkatnya wawasan lansia mengenai kesehatan dan kehidupan sosial.
• Terbentuknya lansia yang percaya diri, mandiri, dan mampu mengelola kehidupannya.
• Lansia menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat.
• Lansia memiliki kegiatan rutin yang menyehatkan dan mengurangi risiko kesepian atau depresi.
• Terwujudnya masyarakat yang ramah lansia.

Indikator keberhasilan Sekolah Lansia di Bukit Cermin meliputi:
• Jumlah dan konsistensi kehadiran peserta.
• Kualitas pelaksanaan kegiatan dan keterlibatan narasumber.
• Dampak perubahan perilaku kesehatan, emosional, dan sosial.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB Kota Tanjungpinang, Rustam, SKM., M.Si., menegaskan bahwa Bukit Cermin merupakan salah satu kelurahan yang paling berani dan berhasil dalam menerapkan program nasional ini. Hal ini dibuktikan dengan prestasi Bukit Cermin sebagai Juara I Kampung KB tingkat provinsi.

Menurut Rustam, terdapat tujuh dimensi lansia tangguh yang menjadi inti Sekolah Lansia:

  1. Dimensi Spiritual
    • Penguatan keimanan dan ketakwaan.
    • Pembinaan langsung oleh tokoh agama.
    • Pemahaman tentang kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi hidup.
  2. Dimensi Intelektual
    • Stimulasi melalui diskusi, membaca, dan aktivitas kognitif.
    • Pelatihan sederhana menjaga daya ingat dan fokus.
  3. Dimensi Fisik
    • Olahraga rutin.
    • Pemeriksaan kesehatan dasar.
    • Rujukan ke tenaga kesehatan bila dibutuhkan.
  4. Dimensi Emosional
    • Pemahaman perubahan psikologis pada masa tua.
    • Dorongan menjalankan hobi dan rekreasi.
    • Ruang konseling dan curah pendapat.
  5. Dimensi Vokasional
    • Identifikasi keterampilan usaha.
    • Pemetaan potensi ekonomi lingkungan.
    • Penghubung ke sumber belajar atau pendanaan.
  6. Dimensi Sosial Kemasyarakatan
    • Pelibatan lansia dalam kegiatan komunitas.
    • Penguatan interaksi sosial.
    • Pencegahan isolasi sosial.
  7. Dimensi Lingkungan
    • Edukasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
    • Pelatihan pemanfaatan barang bekas.
    • Pendampingan tenaga ahli lingkungan.

Pelaksanaan Sekolah Lansia di Bukit Cermin memberi dampak nyata:
• Antusiasme dan kehadiran peserta sangat tinggi.
• Lansia merasa dihargai dan memiliki ruang produktif.
• Perubahan perilaku kesehatan seperti rutin berolahraga dan menjaga pola makan.
• Solidaritas sosial meningkat.
• Lingkungan makin ramah lansia.

Pelaksanaan ini juga sejalan dengan visi Wali Kota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah, SH, yaitu BIMA SAKTI (Berbudaya, Indah, Melayani, Aman menuju masyarakat Sejahtera, Agamis, Kreatif, Teknologis, dan Integritas).

Keselarasan tersebut tergambar dalam aspek:

  1. Berbudaya – menguatkan nilai sosial-budaya.
  2. Indah – mendukung kebersihan dan tata lingkungan.
  3. Melayani – menjadi bukti pelayanan pemerintah bagi seluruh usia.
  4. Aman – memberikan pengetahuan dan pendampingan bagi lansia.
  5. Sejahtera – meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial.
  6. Agamis – memperkuat pembinaan spiritual.
  7. Kreatif – menumbuhkan potensi dan hobi produktif.
  8. Teknologis – memperkenalkan lansia pada penggunaan gawai sederhana.
  9. Integritas – menumbuhkan keteladanan dan solidaritas.

Program Quick Wins SIDAYA yang diimplementasikan melalui Sekolah Lansia di Bukit Cermin merupakan contoh nyata bagaimana pemberdayaan lansia dapat dilakukan secara inovatif dan berkelanjutan meski dengan keterbatasan anggaran.

Dengan mengedepankan tujuh dimensi lansia tangguh, pelaksanaan program ini berhasil:
• Meningkatkan kualitas hidup lansia.
• Memperkuat ketahanan keluarga.
• Menjadikan Bukit Cermin sebagai role model Kampung KB tingkat provinsi.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa ketika pemerintah daerah, kader, narasumber, dan masyarakat bekerja bersama, lansia dapat hidup lebih sehat, bahagia, dan produktif. Program ini layak menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Tanjungpinang dan daerah lain di Indonesia. (*)